SEJARAH NANGA PINOH
KABUPATEN MELAWI
Oleh Marwan pada Selasa, 05 November 2013 pukul 22.39
A. Lintas Sejarah
Dahulu kotaNanga Pinoh terletak di Tekelak, pada tahun 1862 karena pantainya yang curam dan sulitnya bongkar muat sehingga secara berangsur mereka pindah ke seberang yaitu di Nanga Pinoh sekarang. Pada jaman dahulu sebagian kota Nanga Pinoh yaitu sepanjang tepian sungai Melawi (sekarang jalan Garuda) adalah rawa-rawa.
Pada tahun 1891 berdiri badan urusan Pernikahan dan Kematian, ini dibuktikan dengan prasasti Wu Chi Than oleh perkumpulan Sip San Sa (tahun 34 dinasti Kwang Si). Oleh karena penduduk semakin bertambah, terutama marga Lai, maka dibukalah Sekolah Dasar Tionghoa yang pertama tahun 1902-1965.
Orang-orang Tionghoa membawa serta kepercayaan leluhurnya dengan menganut kepercayaan Kong Hu Cu dan membangun Klenteng pertama pada sekitar tahun 1885 di tepi sungai Melawi waktu itu, persisnya di ujung lapangan basket yang sekarang, kemudian dipindahkan oleh Belanda pada tahun 1927.
Pada tahun 1928 terjadi kebakaran hebat di sepanjang tepian sungai Melawi dan menghanguskan 40-an rumah. Karena hebatnya kebakaran, roda perekonomian terganggu sampai berbulan-bulan. Hal ini terjadi karena untuk datangkan sembako dari Pontianak dengan angkutan sungai yang waktu itu disebut kapal bandung, perlu waktu yang lama.
Selain sebagai tempat sembahyang, komunitas etnis Tionghoa waktu itu sering menjadikan Klenteng sebagai lokasi untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, konflik dan sengketa.
Sejak dahulu orang-orang Tionghoa jika membuka usaha, lahan bisnisnya pasti berada di pertemuan dua sungai, ini dimaksudkan agar dagangan dari kedua hulu sungai akan singgah dan menjual dagangannya. Sampai sekarang kita masih bisa melihat jejak petualangan mereka. Contohnya di kota Sintang yang diapit dua sungai yaitu sungai Melawi dan Kapuas, mereka berdagang dan tinggal di antara sungai tersebut. Di kota Sekadau juga berada di antara dua sungai yaitu sungai Kapuas dan sungai Sekadau, demikian juga kota Sanggau berada di antara dua pertemuan sungai, yaitu sungai Kapuas dan sungai Sekayam, dan demikian seterusnya. Orang Tionghoa pada umumnya lebih merayakan Imlek sebagai hari besar, ketimbang hari-hari besar lainnya. Ada kebiasaan mereka menempelkan kertas merah pada pintu rumah, jendela-jendela, bangku, meja, lemari dapur, kue keranjang bahkan sampai di tungku.
Seiring masuknya kolonial Belanda di Nanga Pinoh dan berkembangnya kota Nanga Pinoh, mulailah dikerjakan jalan Sintang-Nanga Pinoh dan Nanga Pinoh-Kota Baru. Pengerjaan dengan pengerahan tenaga Rodi, sehingga jalan Nanga Pinoh-Kota Baru sering disebut jalan 40 hari (karena pekerja Rodi bekerja selama 40 hari per tahun). Tahun 1931 kolonial Belanda membangun pasar pagi yang tahan api , tetapi pasar ini pun terbakar ludes tahun 2003.
Missionaris Kristen Protestan Pendeta Robert Mao masuk ke Nanga Pinoh pada tahun 1937, dan mengadakan penginjilan di tepi-tepi jalan Kota Nanga Pinoh. Missionaris Kristen Katholik Pastor Linsen (Chong Si Sin Fu) datang pada tahun 1947 dan berkedudukan awal di Serawai, dan Suster Helena (Thai Ku Nyong) dari negeri Belanda pertama kali membuka balai pengobatan di Nanga Pinoh.
Pesawat Cessna MAF (Mission Aviation Fellowship) pertama mendarat di lapangan perintis Nanga Pinoh tahun 1970. Seiring kemajuan Kalimantan Barat, khususnya Nanga Pinoh, bis antar kota sudah menembus kota Nanga Pinoh pada tahun 1983. Dan pada tahun 1986, pesawat DAS (Dirgantara Air Service) resmi menerbangkan rute Pontianak-Nanga Pinoh. Pada tahun 1996 pesawat DAS (PK-PIS) yang diterbangkan oleh pilot Agung Kuncoro jatuh di bukit Saran dan menewaskan 10 penumpangnya dan 1 penumpang selamat yaitu ibu Nur Intan.
Karena lancarnya arus angkutan darat maka sejak tahun 1990 angkutan sungai dengan kapal bandung mulai ditinggalkan.Di tahun 2003 Kota Nanga Pinoh diresmikan menjadi Kabupaten Melawi dengan Bupatinya Drs. Suman Kurik, MM.
Sampai sekarang kota Nanga Pinoh telah berkembang menjadi suatu wilayah perdagangan meliputi wilayah Kota Baru, Serawai, Ella dan lain-lain.
B. Mengetahui Asal Mula Nama Nanga Pinoh yang Masih Asing di Kalimantan Barat Maupun di Indonesia
Berdasarkan cerita para Tetua di Daerah Sayan dan sekitarnya, ternyata nama Sungai Pinoh pada zaman dahulu adalah Sungai Penuh (penuh dengan kayu), di ceritakan bahwa pada zaman dahulu sering terjadi perang antar Kerajaan Hulu (Daerah Sokan, Kota Baru (sekarang Kecamatan Tanah Pinoh) dan Nanga Sayan) dengan kerajaan hilir (Nanga Pinoh dan Sintang) maka Raja Daerah Hulu memberi perintah kepada seluruh Prajurit dan Rakyatnya untuk menebang semua pohon yang dekat sungai dengan tujuan supaya sungai menjadi penuh dengan kayu, dengan demikian pasukan Hilir tidak bisa menyerang ke Hulu (pada zaman dahulu belum ada jalur darat), benar saja ketika pasukan Hilir mau menyerang mereka menemukan sungai yang penuh dengan kayu sehingga mereka tidak bisa lewat. Dan mulai saat itu semua prajurit dan warga sekitar sungai menyebut sungai tersebut dengan nama Sungai Penuh. Adapun sekarang menjadi Sungai Pinoh itu hanya karena perkembangan zaman dan seiring dialek kebahasaan masyarakat sekitar yang berubah. Bahakan sekarang berkembang menjadi sebutan Nanga Pinoh, karena memang Sungai Penuh atau Sungai Pinoh sebutan sekarang berada di nanga.
C. Bagaimana Persiapan Sebelum Peperangan
Setelah sekian lama ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia, akhirnya Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini tidak terlepas dari peran para tokoh yang berjuang menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan. Sarana penyebaran berita Proklamasi Berita proklamasi yang telah meluas di Jakarta segera disebarluaskan keseluruh wilayah Indonesia bahkan keseluruh dunia.
Berita proklamasi pada waktu itu di Melawi masih simpang siur informasinya. Setelah mendapatkan penjelasan yang pasti dari H.Yusuf Haris, barulah Al-Ustadz Bagindo Jalaludin tidak ragu lagi.
Kelompok Pejuang Merah Putih merupakan salah satu kelompok perlawanan rakyat yang sangat gigi. Nilai-nilai kepahlawanan tumbuh dengan sangat kuat di dada mereka demi menjaga nama bangsa Indonesia dari para penjajah. Dimana, darah dan nyawa sebagai taruhannya dalam mengusir para penjajah.
Selain itu para pejuang Melawi juga meminta bantuan kepada para pejuang lain yang ada di daerah sekitarnya seperti meminta bantuan kepada Sintang dan tetangga lainnya. Di Melawi sendiri selain BOPMP, juga terdapat kesatuan lain yang Menjadi salah satu sarana perjuangan memperebutkan kemerdekaan yaitu Kesatuan Batalyon Mandau Telabang yang di pimpin oleh seorang asal Kalimantan Tengah yang bernama Kapten Markasan. Nasab beliau adalah Markasan bin H.M Sa’ad bin Cik Aji.
Selain dua organisasi tersebut, yang ikut berperang memperebutkan Kemerdekaan di Melawi adalah dari Banjarmasin yang di sebut dengan pasukan Beruang Merah dan juga bantuan dari Kalimantan Tengah yang di sebut dengan pasukan Anjing Hitam, dan bergabunglah di Melawi dengan Laskar Merah Putis, tiga organisasi ini tergabung dalam satu kesatuan yaitu Kesatuan MN 1001 MTKI/TNI.
Dengan bergabungnya berbagai organisasi perjuangan tersebut, maka sudah cukup kuatlah kekuatan, dan dengan demikian menghadapi perang Melawi sudah siap untuk menyerang benteng Belanda di Kampung Tanjung Niaga.
D. Peperangan Memperebutkan Kemerdekaan
Kemerdekaan Indonesia direbut melalui perjuangan cukup panjang dengan penuh tetesan keringat dan darah, serta nyawa yang tidak ternilai harganya. Para pejuang pendahulu berjuang tanpa pamrih dengan semboyannya “Merdeka atau Mati”.
Begitu pula di Kabupaten Melawi, yang pada zaman kolonial Belanda, para pejuang terdahulu merebut kemerdekaan dengan semangat berkorban. Melalui Pejuang Merah Putih dibawah komandan Bagindo Jalaludin.
Dengan gabungan kekuatan yang sudah ada, membuat tentara Belanda gentar. Belanda menarik mundur pasukannya baik yang ada di Sintang dan Nanga Pinoh, pasukan tersebut ditarik ke Sanggau. Kecuali Polisi Belanda orang Indonesia. Mereka tetap berada diposnya.
Setelah dirasa sudah cukup persiapan peperangan, maka pada tanggal 10 November 1946, pada dini hari, maka dailakukanlah penyerangan terhadap benteng Belanda di Tanjung Niaga.
Kopral Norbet sendiri pada waktu itu ikut berperang, beliau berangkat dari Madong Raya bersama tiga temannya bernama Kapten Markasan, Letnan Ohon, dan Sersan Dumek. Mereka berangkat dari Madong Raya pada malam hari dengan menggunakan perahu kecil hal ini supaya tidak di ketahui oleh pihak musuh. Mereka singgah di Tanjung Elai, yang dikatakan bahwa di sinilah Markas Pejuang Merah Putih, akan tetapi tidak ada bukti fisiknya. Di Tanjung Elai sudah berkumpul para pejuang lain yang siap untuk menyerang benteng Belanda.
Dalam masa penyerangan menduduki benteng Belanada tersebut, telah menelan banyak korban jiwa. Pada 10 November 1946, dini hari. Pada waktu itu Benteng Belanda di pimpin oleh Controleur L.J Herman, yang di juluki Komandan Gila oleh para pejuang sebagai bukti kekesalannya terhadap Belanda.
Peperangan berlangsung cukup sengit dan banyak menelan Korban baik dari kubu Pejuang Melawi maupun dari kubu Belanda. Kopral Norbet pada waktu itu berperan sebagai penembak jitu dengan menggunakan Senapan Lantak, dan melauli peperaang yang cukup lama akhirnya peperanagn tersebut di menangkan oleh Pejuang Melawi.
Dengan kemenangan tersebut maka dikibarkanlah bendera Merah Putih di Melawi, tepatnya di Nanga Pinoh pada esok harinya tanggal 11 November 1946. Bedera Merah Putih berkibar dengan megahnya dan disambut Rakyat sangat bergembira pada waktu itu, melihat bendera Indonesia berkibar melambai-lambai di Bumi Persada.
Bagindo Jalaludin kemudian kembali ke Nanga Pinoh. Akan tetapi, malang tidak dapat ditolak, mujur tidak dapat diraih, pada tanggal 15 November 1946, siang hari, tentara KNIL datang dari Pontianak dengan tiga buah Motor Nirub. Membawa pasukan Belanda dan persenjataan modern yang lengkap. Sembelum mendarat, pasukan Belanda menembakkan peluru secara membabi buta.
Kemudian terjadilah pertempuran sengit antara pasukan kesatuan Pejuang Merah Putih yang bersenjatakan Karaben dan Golok, dengan tentara KNIL yang memiliki persenjataan canggih serta memadai. Menurut Kopral Norbet, tiga buah kapal nirub tersebut bisa sampai ke Nanga Pinoh, dikarenakan kapal tersebut tidak di cegat oleh Pejuang Merah Putih Sintang, karena memang tiga buah kapal nirub tersebut bersenjatakan lengkap dengan meriamnya, jadi Pejuang Merah Putih Sintang tidak berani mencegatnya.
Dengan persenjataan yang sealakadarnya yang dimiliki oleh Pejuang Melawi maka sudah di pastikan pejuang Melawi mengalami kekalahan. Kedatangan tiga buah kapal Nirub tersebut langsung singgah di pantai sungai tepat di Kampung Liang, kampong yang berseberangan dengan Kampug Tanjung Niaga, yang menjadi tempat terletaknya Benteng Belanda.
Raden M. Syamsudin bin Raden Panji Abdurahman, Raja Sintang ke 28, dipecat dari pangkatnya akibat membuat pernyataan bahwa, rakyat Kerajaan Sintang berdiri di belakang BOPMP Republik Indonesia. Setelah itu, Pejuang Merah Putih mundur dan masuk ke hutan di hulu Sungai Pinoh. Sedangkan Bagindo Jalaludin beserta isteri dan anaknya, menyelamatkan diri ke dalam hutan, setelah sebelumnya mendapat ancaman untuk dibunuh.
E. Kehidupan Setelah Peperangan
Pimpinan Pejuang Merah Putih, Bagindo Jalaluddin Khadim. Beliau beserta keluarga lari dari Nanga Pinoh dengan didampingi seorang penunjuk jalan, seorang lelaki Suku Dayak bernama Dayah atau Taher Bora. Melalui kampung-kampung seperti Nanga Kelawai, Sungai Mangat, Kayu Baong, Nanga Sasak, Mancur, Entapang, Sapau di Kalimantan Tengah.
Setelah terus menghindar dari kejaran tentara KNIL, akhirnya Bagindo Jalaludin beserta anak dan isterinya tertangkap oleh tentara KNIL dari Kalimantan Selatan. Anak dan isterinya dilepaskan dan akhirnya kembali ke Kota Baru. Bagindo Jalaludin langsung dibawa ke Banjarmasin, kemudian diteruskan ke Jakarta, dan dipenjara di rumah tahanan Cipinang.
Dari Jakarta, selanjutnya dikirim ke Pontianak. Atas keputusan peradilan NICA Belanda, Bagindo Jalaludin Kahtim dihukum enam tahun penjara. Setelah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Indonesia dan Belanda, yang menghasilkan penyerahan kedaulatan bangsa dari Negeri Belanda ke Republik Indonesia.
Pada 27 Desember 1949, Bagindo Jalaludin dibebaskan dari penjara. Dia melakukan sujud syukur. Dari hasil perjuangannya terdahulu, Bagindo melantunkan senandung yang berbunyi, “Dua kali perang tebidah. Naga Payak kubu belansai. Kalau dikenang masa yang sudah, air mata jatuh berderai.”
Pada tahun 1957, beliau jatuh sakit, akibat menderita sakit paru-paru dan dirawat di Rumah Sakit Umum di Sintang. Pada 1958, dalam usia 50 tahun, Bagindo Jalaludin wafat. Dia disemayamkan di kampung halamannya di Pariaman Padang, Sumatera Barat. Tepatnya di Alahan Tabek, Basuk Sikucur.
Sepeninggalan Bagindo Jalaludin, anak-anak Nanga Pinoh, khusussnya pelajar pada masa itu, oleh gurunya di sekolah dalam mengenang jasa para pahlawannya menyanyikan lagu perjuangan yang berbunyi, Gerilya Nanga Pinoh Dua Tiga Lusin, Senjatanya ada Dua Belas Pucuk Karaben. Selain Itu Pisau dan Siken, Penghulunya itu Bagindo Jalaludin.
Kapten Markasan dan Tk. Liwan merusaha mengkoordinir pasukan, tapi usaha tersebut sia-sia karena hubungan dari hutan ke hutan tidak menentu. Serangan pasukan Belanda tetap di luncurkan, hal ini jadi penghambatnya.
Sekarang Desa Madong Raya Kecamatan Tanah Pinoh di bangunlah sebuah Monumen berupa tugu yang di beri nama Tugu Perjuangan 1946 berupa tugu bambu runcing. Mungkin hal ini ada kaitannya dengan alat perjuangan waktu itu yang menggunakan bamboo runcing. Sebagai tanda di tempat tersebut merupakan salah satu tempat yang bersejarah dan banyak Melahirkan pejuang. Seperti Kopral Norbet, Sersan Dumek dan Letnan Ohon yang merupakan orang asal Madong Raya. Tugu Perjuangan 1946 di bangun di pesisiran Sungai Pinoh berdekatan dengan komplek makam keluarga Kapten Markasan serta pejuang di masa itu. Tugu ini di bangun di masa pemerintahan Gubernur Kadarusno.
<script data-ad-client="ca-pub-9522845137461060" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
